Adalah aku dapatkan dari buku yang belum juga aku selesaikan... Bilangan Fu. Dimana tulisan mengenai Laku kritik di lakukan oleh tokoh utama.. Lku kritik tidak saja di alami oleh Parang jati , dalam tokohnya Bilangan Fu. Aku pun juga merasakan. Seperti juga yang dirasakan parang jadi, hati ini Kosong..
Terkadang kita mengkritisi sebuah fenomena jelas dengan logika, tapi tidak anti terhadapnya. Hanya kritis. Hmm... sangat manusiawi , aku rasa. Aku merasa sangat senang dan cocok dengan peran Parang jati. Dia berkembang dengan dialektika dari informasi, pengetahuan , informasi yang diterimanya. Aku katakan ada dialektika. Tidak ujug - ujug berkesimpulan. Informasi sepeeerti halnya data baginya. Yang akan di oleh nantinya. Tapi perlahan , menunggu maching dengan data yang lain. Menakjubkan. Itulah intinya perkembangan manusia.
Menjadikan diri kita atau orang lain , dapat melihat permasalahn dengan kaca mata yang sama adalah perjuangan. Apalagi melihatnya dengan posisi yang lebih tinggi, sehingga kita mengetahui dimana posisi kita dalam sistem tersebut, butuh kearifan dan kesadaran.
Acapkali aku melakukan laku kritik, tapi tidak bisa melepaskan hal tersebut. dikarenakan adanya sebuah ikatan dengan hal tersebut yang membuat kita tidak melepaskannya. ada kepentingan di sini. Misalnya, yang sering aku ceritakan mengenai pekerjaan ini. seharusnya ini semua yang aku kerjakan irrasional, karena di kendalikan oleh uang. Dimana uang itu irrasional. Tapi aku tidak bisa melepaskannya. aku tetap menjalaninya. Seperti ini.
Laku kritik, nantinya akan menjadi perwujudan sikap dari manusia yang masih dalam gray area. Dan itu menyakitkan, menyedihkan, tapi akan lebih kritis dan tajam.
Posted at 05:54 am by DIANK